11
November
2008

4=mati?

Membaca banyaknya liputan tentang Obama akhir-akhir ini, sangat menarik menyimak tulisan Bondan di majalah Tempo. Bahwa Obama adalah presiden ke 44. Angka 4 diyakini etnis Tionghoa berarti mati. Dan 44 artinya mati dua kali. Padahal orang Amerika mempercayai angka 13 sebagai angka sial, walaipun kalau kita jumlahkan maka hasilnya kembali ke angka 4.

Semakin dipikir-pikir tidak terlalu salah persepsi itu, dan banyak hal semacam itu teraplikasikan dalam kehidupan kita sehari-hari. Sadar maupun tidak kita sadari. Misal saja banyak gedung tinggi tidak ingin menamai lt 4 dengan angka 4 tetapi diganti dengan angka lain yang dianggap tidak bawa sial seperti 3 A dan sebagainya.

Ada seorang teman dari etnis keturunan Tionghoa, terpaksa mengambil tindakan bedah caesar saat melahirkan anaknya untuk menghindari kelahiran di tanggal 4 dan berbau angka 4 bahkan berjumlah 4. Dan dokter kandungannya yang juga dari golongan etnis yang sama juga memasang tarif khusus tanpa angka 4 dan jika di jumlah bukan 4.

Lain lagi cerita seorang dealer mobil ketika menawarkan angka di plat mobil. Jika tidak ada permintaan khusus, maka harga normal berlaku. Untuk menghindari angka 4, maka tambahan Rp250.000.

Jadi sekarang menghindari angka 4 pun sudah menjadi komoditas. Pertanyaan berikutnya, apakah jual beli angka 4 kenapa bukan menjadi harga mati?

Yakin ataupun tidak terhadap persepsi ini, akan kembali kepada kita. Karena dunia bisa bicara apa saja tetapi Tuhan punya kuasa. Ketika ahli pikir cina memasukkan angka 4 yang berarti mati dalam hitungan mereka, adalah semata-mata ingin menunjukkan sebuah siklus dalam hidup ini. Ada proses kelahiran, kebahagiaan, panjang umur dan kematian.

Sesuatu yang normal dan wajar. Tetapi bisa menjadi tidak normal dan wajar jika cara pandang kita juga ikut-ikutan abnormal.

Percaya 4=mati? kembali kan saja pada diri sendiri.



Leave a Reply