30
December
2008
Natal 2008, mulai terasa denyutnya di awal bulan Desember. Kami sibuk mendatangi mall untuk sekedar membeli beberapa kado natal. Denyut ini semakin menguat saat belanja berbagai perlengkapan untuk kue natal dijalankan. Mengadon, memanggang, menyusun ke dalam toples kedap udara dan dinikmati bersama, mejadikan irama Natal kali ini berbeda.Hal yang menjadi rutinitas tahunan kami adalah mengunjungi orang tua dan kerabat yang dituakan di tiap kali Natal menjelang. Mengirimkan beberapa hantaran Natal dan menikmati saat santai bersama keluarga.
Natal tahun lalu, biasanya tidak ada yang datang menjadi tamu di rumah kecil kami. Tapi tahun ini, berbeda. Diawali dengan kehadiran sepupu-sepupu muda dari pihak suamiku yang datang memberikan salam natal kepada kami. Ramai-ramai mereka menikmati kue natal tradisional buatan mertuaku sambil bercerita seru.
Sangat menyenangkan. Mungkin 10 tahun mendatang mereka akan menjadi orang-orang yang sangat dibanggakan. Menjadi spesialis ternama, manager yang berpotensi atau mewujudkan impian menjadi seorang polisi. Entahlah apakah mereka akan juga masih memegang tradisi ini sebagai pengikat tali kekeluargaan di dalam kehidupan mereka kelak.
Lalu, kemaren (29/12/08) rumah kecil kami di semarakkan dengan kehadiran keluarga untuk mengucapkan kegembiraan natal. Aku sangat senang dengan kegiatan ini, walaupun melelahkan dan sibuk. Tetapi semua tertutupi dengan banyak kejadian natal yang membahagiakan.
Semoga Natal kali ini menjadi berkah bagi semua orang
Posted: Uncategorized
9
December
2008
Sebagai anak yang terlahir paling dulu, peran kakak sangat dimainkan olehku dari kecil. Sering sekali aku berkhayal pada suatu hari kelak, aku juga akan memainkan peran sebagai seorang adik.
Namun, tampaknya keinginanku ini agak sulit diwujudkan. Saat menikah dengan suamiku, tak pernah terlintas memainkan kembali peran sebagai seorang kakak pada keluarga di luar rumah ibuku. Menjalani kehidupan rumah tangga hampir 7 tahun, ternyata tetap menetapkanku melakoni peran seorang kakak bagi keluarga besar kami.
Suami ku terlahir sebagai anak paling ‘dituakan’ dalam keluarga besar Tambunan dan Siahaan (dari mertua perempuanku). Mau tidak mau peran ini harus juga ikut aku imbangi untuk dijalankan. Dan semakin hari, kala adik-adik kami semakin dewasa, peran ini ternyata bukan cuma sekedar ‘dagelan’.
Setiap saat kami harus siap menjadi kakak yang baik bagi mereka. Sampai kadang-kadang aku berpikir, kapan kami memiliki waktu untuk diri kami sendiri. Semua pekerjaan keluarga selalu datang mengantri seolah tak berujung. Memainkan peran sebagai kakak ipar atau kakak sepupu inilah yang selalu menjadi alur tersendiri. Kadang aku sering bingung dalam menentukan sebuah sikap dan tindakan untuk alur yang benar.
Seorang kakak, harus bisa selalu mengerti kebutuhan dan kondisi tiap adik-adiknya. Harus bisa merasakan apa yang mereka rasakan. Juga harus bisa membimbing mereka agar menjadi anak yang baik. Walah…padahal kadang-kadang aku juga mau ada yang mengerti diriku, merasakan apa yang aku rasakan dan dibimbing dengan baik.
Tanpa ku sadari, saat menjadi kakak, aku harus mendahulukan apa yang menjadi kepentingan adik-adikku daripada diriku sendiri. Tidak boleh egois.
Sedihnya, saat mereka sudah dalam posisi yang nyaman, mereka sering melupakan bahwa ada seorang kakak yang berperan dalam kehidupan mereka. Mereka sering lupa ada seorang kakak yang selalu ada bagi mereka dalam segala kondisi mereka.
Aku cuma berharap, mereka bisa mengenangku pada suatu saat kelak, bahwa mereka memiliki seorang kakak yang walau tak sempurna tapi ada selalu untuk mereka.
Posted: Uncategorized