9
September
2008

Menikah=Berjudi?0

Setiap manusia pasti ada satu masa memiliki hasrat untuk menikah.  Memiliki teman berbagi dalam kehidupan sampai maut memisahkan.  Sebelum menikah ada seorang teman yang  menyamakan masa pernikahan adalah masa perjudian terbesar dalam hidup manusia.

Karena kita tidak pernah tahu dengan pasti, siapa sebenarnya manusia yang menjadi pasangan hidup kita.

Ini adalah sebuah kisah yang memang terjadi pada salah seorang yang aku ‘pikir’ cukup ‘aku kenal’.

Seorang pria dewasa memutuskan untuk menikahi seorang wanita. Sederhana saja prinsipnya.  Ketika masuk proses saling mengenal, sang pria dewasa menyatakan diri sebagai anak yatim.  Diperkuat oleh kesaksian dari keluarga, sang wanita pun meyakini tak ada yang salah dengan pengakuan itu.   Hanya saja, sang pria tak pernah mau menunjukkan dimana letak kubur sang ayah.

Tapi cinta mengalahkan segalanya, dan pernikahan pun terjadi.  Tak ada yang terasa ganjil dan kehidupan rumah tangga pun berjalan dan berbuahkan 3 orang anak yang baik dan pintar.  Waktu berjalan ke-3 anak mereka pun beranjak besar dan hanya mengetahui bahwa kakek mereka dari ayah sudah tiada sejak lama.

Sampai pada suatu hari, ada berita yang memberitahukan bahwa ayah dari pria tadi, juga mertua dari sang wanita dan sudah pasti juga adalah kakek dari ke-3 anak mereka MENINGGAL.  Beritapun menjadi sensasional.

Berbagai pertanyaan pun bermunculan seiring dengan berita tadi.

1. Siapakah sebenarnya si Pria yang sekarang sudah menjadi suami dan ayah itu?

2. Siapakah kakek yang meninggal itu?

3. Mengapa si Pria itu tega membohongi keluarganya sekian lama dengan cerita kematian palsu?

4. Mengapa tak ada keluarga yang menceritakan kejadian sebenarnya selama ini?

Dan berjuta pertanyaan lainnya.

Ini mungkin yang dimaksud dengan menikah=berjudi.  Dan kadang memang kita tidak pernah tahu dengan siapa sebenarnya kita menikah.  Namun, ada unsur percaya dalam sebuah pernikahan.  Kepercaayan bahwa apapun itu, yang namanya kebenaran pada satu waktu akan terungkap.

Dengan cara yang misterius dan waktu yang memang bukan waktu kita.

(sebuah renungan yang terinspirasi dari kisah nyata seorang tetangga)