2
May
2008

Pilihan Yang Sulit0

Ada masa, dimana kita merasa ada di persimpangan jalan. Celakanya lagi, kita tidak tahu ke mana akhir dari setiap persimpangan jalan itu. Apakah jalan itu akan membawa kita ke sebuah tempat yang sangat nyaman ataukah malah menjerumuskan ke jurang tiada akhir.

Ada masa, dimana kita merasa bukan pada saat yang tepat. Celakanya lagi, kita tidak juga tidak tahu kapan akhir dari perjalanan waktu itu. Sesaat rasanya kita berjalan pada waktu yang berputar dengan sangat lambat, saat lain rasanya sang waktu berjalan sangat cepat dan ada satu saat lain dimana kita merasa kelelahan berlari dengan tenaga penuh dan tiada henti mengejar waktu.

Ini adalah semua babak dalam kehidupan manusia.

Ini juga rasa yang saat ini aku rasakan.

Jika mengikuti ego, ingin rasanya tetap berada pada kawasan nyaman ini. Jika mengikuti ego, tak rela rasanya melepasakan semua yang ku punya saat ini.
Jika mengikuti ego, tak ingin rasanya memulai sesuatu yang baru.

Tapi tidak semua egoku bisa dipertahankan.
Inilah masanya aku harus melepasakan semua ego yang ku miliki.

Berjalan dalam kehidupan yang lebih keras lagi dan baru. Karena ada banyak hal yang harus ku pertaruhkan. Bukan sekedar kenyamanan bekerja, bukan sekedar nyamannya punya mobil matic, juga bukan sekedar senangnya melakukan perjalanan ke luar negeri.

Saatnya aku harus menentukan arah kehidupanku. Saatnya aku harus menentukan waktuku untuk berhenti dan memulai sesuatu yang baru.

Kehidupan ku bukan cuma untuk aku. Ada seorang suami yang baik, ada seorang anak yang pintar ada keluarga yang mencintaiku. Mereka menjadi bagian terpenting yang harus ku pertaruhkan dengan segala upaya yang ku miliki.

Bagiku kebahagiaan dan keceriaan mereka ada harta yang tak ternilai bagi ku.

Aku mencintai mereka lebih dari aku mencintai diriku sendiri.

(saat aku merasa berada di persimpangan jalan)