24
January
2006

Pendidikan Seks Pada Anak0

Ada percakapan menarik dengan teman-teman arisan pada hari minggu lalu. Percakapan yang di mulai dari lucunya anak yang “cubby” sampai pada akhirnya tontonan TV dan pendidikan seks pada anak. Seorang teman bercerita bahwa anak perempuannya yang hampir seusia dengan Yeremia sudah mendapat pendidikan seks dengan pelajaran awal mengenal kata vagina.

Adat timur yang masih kental mengalir dalam darah teman-teman arisan, membuat pembicaraan ini sangat seru. Tanpa bermaksud membenarkan salah satu pihak, aku cuma berpikir hal semacam ini tidak akan pernah bisa memuaskan semua pihak. Karena memang tidak ada yang salah maupun yang benar.

Pengajaran barat tentang seks, belum tentu benar. Hal ini terbukti dari ideologi seks bebas yang dianut dunia barat. Tapi menutupi perihal seks yang dianut orang timur juga kurang tepat, karena ini berdampak pada praktek pemuasan rasa ingin tahu remaja.

Mungkin sikap yang paling tepat dalam kasus ini adalah bersikap bijak dan mencari waktu yang tepat untuk memberikan penjelasan kepada anak. Dalam artian, bahwa benar pendidikan seks itu harus diberikan kepada anak (karena itu memang hak mereka), tapi waktu yang tepat juga harus ditemukan oleh orang tua (agar tidak ada yang jadi kebablasan).

Berbekal pengalamanku yang mendapatkan pengetahuan seputar seks pada kelas 6 SD, menjadi bahan pemikiran yang kembali muncul saat itu. Aku ingat, sekolah lah yang memberikanku pelajaran pertama tentang seks. Saat itu semua murid perempuan dan laki-laki di tempatkan di 2 ruangan yang berbeda untuk mendapatkan penjelasan dan melakukan dialog yang jelas tentang seks tanpa rasa malu. Aku ingat, 1 bulan sebelum mendapatkan pelajaran khusus ini, tim psikolog sekolah terlebih dahulu mengadakan test IQ untuk mendapatkan data pribadi siswa.

Hasilnya, lumayan juga…orang tua pun terbantu dalam meneruskan penjelasan seks di rumah.

Tapi ini pengalaman hampir 20 tahun lalu, apakah waktu yang ditetapkan sekolahku dulu sudah cukup tepat untuk anak-anak saat ini? aku tidak dapat menentukannya. Yang pasti aku selalu berkata pada Yeremia, bahwa adik hadir kalau Tuhan berkenan menghadirkannya di rumah kami.

Tanpa kehendak Tuhan, bagaimana pun daya upaya dilakukan belum tentu akan membuat adik kecil hadir di muka bumi ini.

Semoga kita bisa semakin bijak menghadapi perubahan-perubahan semacam ini di masa yang akan datan.

(terima kasih untuk tim pengajar SDK Sang Timur, Jln. Karmel, Jakarta Barat)

23
January
2006

Bahagianya hidup di Jakarta0

Enam bulan yang lalu, aku sangat bahagia menjadi bagian dari kemacetan lalu lintas tol Jatibening-Kb. Jeruk. Dengan harga BBM yang masih bisa tertutupi oleh gaji, aku bisa menikmati kebahagian pagi melintasi tol dengan berbagai masalah yang timbul secara rutin setiap harinya. Kemacetan yang lebih dini menuju Jakarta di hari Senin pagi atau antrian yang tak terhingga di tiap Jumat malam. Tidak cuma itu, si kecil kami pun menikmati perjalanan panjang pulang pergi setiap harinya dan belajar mengenali jenis-jenis mobil yang beredar di jalan.

Kebahagiaanku tak berumur panjang, ketika pemerintah (yang ikut aku pilih) memutuskan menjadi sebuah lembaga perdagangan dengan menaikkan harga BBM. Mulailah, ilmu pandai berhitung ibu rumah tangga keluar. Akhirnya, aku dan suami memutuskan untuk mencoba menggunakan sarana transportasi umum yang iklannya sangat menarik hati.

Sejak awal memutuskan menggunakan transportasi rakyat yang nyaman itu, aku menemukan kebahagiaan lain yang sama asyiknya dengan mengemudikan ceria merah kami. Berangkat kerja bersama dengan suami, membuat kami memiliki waktu berdiskusi berdua lagi seperti 3 tahun yang lalu. Tidak cuma itu, berbagai pengalaman baru yang menyenangkan juga aku alami sepanjang menjalani perjalanan bersama orang-orang baru yang tidak aku kenal. Namun yang terpenting, aku bisa menghemat waktu dan uang sampai 60% saat memutuskan ikut menyukseskan program Pak Gubernur menciptakan Jakarta yang bersih dan bebas macet.

Di kantor aku mulai melakukan propaganda kepada teman-teman yang masih menggunakan kendaraan pribadi untuk mencoba melakukan seperti yang saat itu aku jalani. Cukup meyakinkan dan sukses. Sampai akhirnya keluar penambahan trayek oleh Bang Yos. Kembali kebahagiaanku cuma seumur jagung. Karena sekarang, penuhnya penumpang tidak diimbangi dengan fasilitas halte dan kendaraan yang nyaman. Tidak cuma itu, di beberapa lokasi, trayek ini tidak bisa berkelit dari kemacetan lalu lintas.

Memang, dari segi alokasi pengeluaran uang, aku masih bisa berhemat tapi dari segi waktu, aku jadi sangat boros. Sehingga sering kali aku dan suami tak lagi sempat bertemu dengan “spiderman” kecil kami. Ugh…seandainya saja… ada yang mau berbaik hati memperbaiki kondisi ini… pasti aku tidak sendiri yang berkata “BAHAGIANYA HIDUP di JAKARTA”

(pengalaman naik busway berdesakan selama 1 minggu sejak dibukanya koridor II dan III)

19
January
2006

Akhirnya…nulis lagi0

Akhirnya setelah 8 bulan, aku bisa nulis lagi untuk web-ku. Berbagai masalah datang menghampiri web kami (suami lebih tepatnya) dan yang udah pasti jadi menimbulkan dampak kepada web kami sekeluarga.

Sekarang, aku sudah memiliki karir baru di tempat yang (sebenarnya gak bisa dikatergorikan seperti ini) baru. Tantangan kerja baru, tekhnik kerja baru dan yang pasti ilmu baru lagi. Semua ini semakin memperkaya cakarawala kehidupan aku. Atau kalau bahasa pesimistisnya nambah-nambahin panjangnya CV…

Tapi gak tempat ini juga tidak dapat menghapuskan kegelisahanku. Sehingga aku berpikir bahwa sepertinya dunia kerja bukan lagi menjadi kawasan yang aku inginkan saat ini. Di tempat kerja baru, aku berhasil mengasah kemampuanku berbelanja barang murah dan berjualan. Gak cuma menemukan tempat-tempat belanja yang menyenangkan tetapi juga menemukan cara-cara memasarkan, mendistribusikan barang dan mendapatkan uang dengan mudah.

Tapi kegelisahan hatiku semakin hari semakin membuatku tertekan. Sepertinya aku harus bisa menemukan sebuah lingkungan baru yang dapat membuatku kembali bersemangat. Dan beberapa saat ini, aku pikir pilihan terdekat adalah meninggalkan dunia kerja dan menjadi seorang ibu rumah tangga. Tapi tetap punya usaha, walau aku masih bingung memilih menjadi pedagang di ITC, atau menjahit, atau mungkin juga menjual kue. Rasanya semua pengen aku raup dalam satu wadah…tapi gak tahu bagaimana caranya…

Namun, semua itu membutuhkan kesiapan. Kesiapan mental dan juga materi. Aku harus menunggu dengan sabar, sampai saat itu tiba. Dan aku berharap kesempatan itu segera datang.

(beberapa bagian adalah insiprasi dari pembicaraan dengan Anita Napitupulu-Simbolon. Adik dan tetangga yang sangat menyenangkan)