January
2006
Pendidikan Seks Pada Anak0
Ada percakapan menarik dengan teman-teman arisan pada hari minggu lalu. Percakapan yang di mulai dari lucunya anak yang “cubby” sampai pada akhirnya tontonan TV dan pendidikan seks pada anak. Seorang teman bercerita bahwa anak perempuannya yang hampir seusia dengan Yeremia sudah mendapat pendidikan seks dengan pelajaran awal mengenal kata vagina.
Adat timur yang masih kental mengalir dalam darah teman-teman arisan, membuat pembicaraan ini sangat seru. Tanpa bermaksud membenarkan salah satu pihak, aku cuma berpikir hal semacam ini tidak akan pernah bisa memuaskan semua pihak. Karena memang tidak ada yang salah maupun yang benar.
Pengajaran barat tentang seks, belum tentu benar. Hal ini terbukti dari ideologi seks bebas yang dianut dunia barat. Tapi menutupi perihal seks yang dianut orang timur juga kurang tepat, karena ini berdampak pada praktek pemuasan rasa ingin tahu remaja.
Mungkin sikap yang paling tepat dalam kasus ini adalah bersikap bijak dan mencari waktu yang tepat untuk memberikan penjelasan kepada anak. Dalam artian, bahwa benar pendidikan seks itu harus diberikan kepada anak (karena itu memang hak mereka), tapi waktu yang tepat juga harus ditemukan oleh orang tua (agar tidak ada yang jadi kebablasan).
Berbekal pengalamanku yang mendapatkan pengetahuan seputar seks pada kelas 6 SD, menjadi bahan pemikiran yang kembali muncul saat itu. Aku ingat, sekolah lah yang memberikanku pelajaran pertama tentang seks. Saat itu semua murid perempuan dan laki-laki di tempatkan di 2 ruangan yang berbeda untuk mendapatkan penjelasan dan melakukan dialog yang jelas tentang seks tanpa rasa malu. Aku ingat, 1 bulan sebelum mendapatkan pelajaran khusus ini, tim psikolog sekolah terlebih dahulu mengadakan test IQ untuk mendapatkan data pribadi siswa.
Hasilnya, lumayan juga…orang tua pun terbantu dalam meneruskan penjelasan seks di rumah.
Tapi ini pengalaman hampir 20 tahun lalu, apakah waktu yang ditetapkan sekolahku dulu sudah cukup tepat untuk anak-anak saat ini? aku tidak dapat menentukannya. Yang pasti aku selalu berkata pada Yeremia, bahwa adik hadir kalau Tuhan berkenan menghadirkannya di rumah kami.
Tanpa kehendak Tuhan, bagaimana pun daya upaya dilakukan belum tentu akan membuat adik kecil hadir di muka bumi ini.
Semoga kita bisa semakin bijak menghadapi perubahan-perubahan semacam ini di masa yang akan datan.
(terima kasih untuk tim pengajar SDK Sang Timur, Jln. Karmel, Jakarta Barat)