18
May
2012

Keabadian

Tulisan ini terinspirasi dari salah satu lagu kesukaan saya berjudul Keabadiaan yang dipopulerkan oleh Reza A.

“Mungkinkan kau mencintai diriku selama-lamanya hingga maut memisahkan?

Bukan hanya cinta yang sesaat terus menghilang bila hasrat telah usai

Mungkinkah terwujud keabadian……?”

Pada satu titik, saya merasakan lagu ini menjadi sebuah inspirasi dan pemikiran tersendiri.  Saat cinta menyapa, sampai berapa lama kita mampu menjaga apinya dengan baik? Tidak membesar namun juga tidak padam.  Bukan hanya sesaat dan kemudian panas yang memenjarakan hati atau memang padam tanpa memberikan rasa.

(Mencoba bertahan untuk cinta yang ku punya)
26
February
2012

Surga dan Neraka

Setiap kali beribadah semua pemuka agama selalu menjanjikan surga. Setiap kali juga terdengar neraka adalah tempat terburuk yang pernah ada tercipta. Sebegitu indah penggambaran surga, sehingga rasanya tak ada yang mau tinggal dan menetap di neraka.

Semua rumah ibadah selalu penuh dengan manusia yang mencari tiket mudah ke surga. Rumah ibadah yang menawarkan tiket ke neraka belum pun berhasil menghimpun jemaatnya sudah pasti segera di tutup oleh para pencari surga.

Dalam sebuah pembicaraan dengan keluarga terdekat, saya menanyakan mengapa mereka sekeluarga sangat aktif dalam kegiatan keagamaan. Inti jawabnya sebenarnya sudah bisa di duga “biar masuk surga” .

Ketika cobaan menerpa keluarga itu, semua mereka berlomba-lomba memasang status memohon pertolongan dari Pemilik Surga (yang juga sebenarnya Pemilik Neraka). Berbagai doa dibuatkan sebagai status terkini dalam setiap jejaring sosial.

Pun ketika cobaan itu berlalu,tak henti membaca ucapan syukur mereka kepada Tuhan. Seketika setiap orang merasakan bahwa surga memang bisa menjadi bagian dari mereka.

Tetapi ketika ada seorang dari keluarga mereka menginginkan juga mendapatkan kebahagiaan di dunia ini, sebegitu mudah kata-kata tak layak keluar dari mulut mereka.

Pertanyaannya sederhana saja, jika memang kita menginginkan surga mengapa harus membuat jalan kita lebih mudah ke neraka?

Layakkah kita memberikan penghakiman kepada orang yang berkesusahan? Layakkah kita memberikan stigma negatif kepada orang yang tak bisa kita tolong?

Sedih sekali saat berharap kita bisa melihat orang lain yang tak jelas hubungannya dengan kita berkesusahan keluar dari masalahnya. Tetapi seringan kita juga tak menyadari bahwa kita turut menciptakan kesusahan pada orang lain.

Ketika kita mengharapkan surga, harus disadari bahwa jalan menuju neraka pun tak seterjal yang dibayangkan.

Saat orang lain menjadi susah, berharaplah bukan kita penyebab utama kesusahannya. Tetapi menjadi penolong yang baik baginya.

Tiket ke surga tak hanya bisa di dapat dari seberapa sering kita beribadah atau menyumbang. Tetapi seberapa hebat kita menularkan kebaikan di muka bumi ini.

Jika kita berpikir agama adalah satu-satunya jalan menuju surga, maka jalankanlah agama dengan baik walau tak mungkin sempurna. Tapi jika kita berpikir ada banyak jalan menuju surga maka ada kebaikanlah jalan paling benar menuju surga.

Bahwa tiket menuju surga atau neraka bukan datang dari agama dan tempat kita beribadah tetapi dari apa yang kita perbuat. Kembalilah kepada hakikat yang sederhana ini dalam mencari jalan menuju Surga atau mungkin juga neraka.

(renungan dari caci maki kepada seorang janda yang memutuskan untuk menikah lagi demi mencari surga dunianya)

11
February
2012

Menjadi Beda

Seorang teman pria di masa SMA setelah sekian puluh tahun membuat pengakuan yang sangat mengejutkan.  Dia yang sekarang berdomisili di salah satu negara bersalju bercerita banyak tentang perubahan dalam hidupnya selepas dari masa SMA.

Latar belakang keluarga yang tak berkekurangan membuat dia memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya ke negara asing.  Berawal dari pergaulan di asrama dengan perebedaan budaya, membuat dia terjebak dalam kenikmatan yang tak seharusnya.

Kecintaannya pada dunia seni membuatnya suka mengunjungi pertunjukan tari.  Berbagai pertunjukkan tari dia nikmati.  Namun sampai pada satu titik, dia mendapati dirinya sangat menyukai dunia tari yang menampilkan penari pria.  Berawal dari keingintahuan, dia mulai rutin mengunjungi tempat-tempat pertunjukan dengan penari pria dan tentu saja berpenampilan “bersih”.

Sebegitu candunya dia pada pertunjukan tari pria erotis sehingga banyak dalam kehidupannya ikut terkontaminasi.  Dia mulai menyadari bahwa ternyata pria lebih menarik baginya.  Dia pun mulai berhubungan dengan pria.

Jarak yang jauh, membuat dia bisa menutupi semua “perbedaannya” ini dari keluarga.  Setiap kali ada desakan menikah dengan wanita, beragam alasan pun dilontarkan.  Sampai pada satu titik dimana tanpa sengaja keluarga pun mengetahui bahwa saat itu dia tak lagi tertarik dengan wanita.  Tak mudah bagi keluarganya menerima kondisi ini.  Sehingga semua subsidi dana dihentikan oleh keluarganya.

Hidup harus berjalan, untuk kembali ke Indonesia bukanlah hal yang mudah.  Dia pun memutuskan dari sekedar penonton tarian pria erotis untuk menjadi penari erotis pria di salah satu klub yang memang khusus dan sudah menjadi agenda rutin dalam kesehariannya.  Tak cuma itu, dia juga memutuskan untuk, juga mengikat perjanjian dengan teman hidup prianya.

Tak mudah bagi ibu nya mendapati dia semakin jauh dari kehidupan seharusnya.  Dan akhirnya membuat sang ibu pasrah dalam menerima kehidupan yang beda dari anak laki-laki kesayangannya. Namun ibunya membuat persyaratan bahwa dia tak boleh menjadi “wanita” dalam segala hal.  Tidak berpakaian wanita dan tidak berperan sebagai wanita.

Perlahan keluarga pun bisa menerima perbedaan yang dia bawa.  Saat kembali ke Indonesia dia pun tak ragu membawa teman hidup prianya turut serta.

Saat membuat pengakuan dengan teman-teman pun dia menyatakan bahwa tak mudah untuk menjalani kehidupan normal apalagi kehidupan yang menurut pandangan umum tak normal.

Terlepas dari itu semua, saya sangat menghargai cara dia sabar menghadapi berbagai penolakan dan cemoohan.  Saat semua seperti yang sudah dia inginkan, dia menyadari bahwa di masa tua belum tentu kemudahan bisa didapatkan.

Semoga semua menjadi bukan sekedar harapan kosong baginya.  Karena siapapun dia sekarang tak akan mampu mengubah sejarah bahwa dia adalah teman yang pernah normal selayaknya pria seharusnya.  Bahwa lingkungan bisa mengubah seseorang secara permanen.

Sekali lagi tak ada yang salah dan bisa disalahkan.  Namun juga tak ada yang bisa mengubahnya kecuali dirinya sendiri dan Tuhan yang dia percaya.

(renungan dari perjalanan hidup seorang teman yang dulunya saya tahu pernah jatuh cinta teramat sangat pada seorang wanita)

 

3
November
2009

Bekerja untuk Budaya

Di masa aku mendapat kesempatan untuk mengenal sebuah media berbasis budaya, terasa ada sesuatu yang berbeda. Rasa senang, bangga dan juga penuh dengan harapan.

Sederhana saja, aku ingin budaya yang sekarang ku kenal juga akan dicintai oleh anak”ku di kemudian hari. Berbekal idealisme ini, aku sangat berharap bisa berbuat banyak melalui sebuah media dalam melestarikan budaya.

Tak tahu akan menjadi seperti apa, tapi tampaknya ada kepahitan tersendiri yang tak terungkapkan. Walau aku masih menyimpan asa untuk menyumbangkan keprofesionalismeanku…tapi adakah sisi penghargaan yang akan dibayarkan untuk itu?

Bekerja untuk budaya bukan berarti tanpa kata profesionalisme bukan?

27
October
2009

Hari NgeBlog (?)

Setelah cukup lama tidak memasukkan apa yang terlintas di pikiran ke dalam blog, hari ini terlintas untuk memberikan sesutau yang baru.

Kata orang hari ini HARI BLOG…ntah apa maksudnya. Aku sendiri tak begitu memahami.

Tapi ndak apa, yang penting gaya aja dulu….

Selamat Hari Blog….

12
January
2009

Resolusi di Tahun Baru

Pemikiran ini sengaja di posting pada saat 2009 sudah berjalan, karena memang bukan ditujukan untuk menjalani 2009. Tetapi resolusi ini menjadi pemikiran untuk di jalankan ditahun “SAYA”. Kenapa aku menyebutnya begitu, karena September, 1973 ada di bawah naungan tahun Kerbau menurut kalender Cina dan sekarang kembali berulang di tahun 2009.

Yang menjadi salah satu langkah baru di tahun Kerbau kali ini adalah: PUNYA ANAK KECIL LAGI.

Bukan sesuatu yang sulit, karena ini anak ke 2. Tetapi juga tidak terlalu mudah karena anak pertama kami sudah mulai mandiri.

Langkah lain yang harus sudah mulai di jajaki pada tahun yang kata ‘orang pandai’ menjadi tahun yang lambat adalah menjadi bos bagi diri sendiri. Waktu, pekerjaan dan semua permasalahan hidup bukan lagi menjadi beban tetapi menjadi sebuah peluang.

Cara pandang dan cara bersikap menjadi sangat penting. Kata Bapakku, jangan pernah takut gagal saat mencoba sesuatu, jadikan kegagalan mu sebagai pelajaran yang tak akan di dapat di sekolah formal sebagai sesuatu yang tak ternilai…

(Hasil renungan dari sebuah percakapan saat arisan Tambunan dan setelah membaca sebuah catatan dari Kafi Kurnia)

30
December
2008

Tamu Natal 2008

Natal 2008, mulai terasa denyutnya di awal bulan Desember.  Kami sibuk mendatangi mall untuk sekedar membeli beberapa kado natal.  Denyut ini semakin menguat saat belanja berbagai perlengkapan untuk kue natal dijalankan.  Mengadon, memanggang, menyusun ke dalam toples kedap udara dan dinikmati bersama, mejadikan irama Natal kali ini berbeda.Hal yang menjadi rutinitas tahunan kami adalah mengunjungi orang tua dan kerabat yang dituakan di tiap kali Natal menjelang.  Mengirimkan beberapa hantaran Natal dan menikmati saat santai bersama keluarga. 

Natal tahun lalu, biasanya tidak ada yang datang menjadi tamu di rumah kecil kami.  Tapi tahun ini, berbeda.  Diawali dengan kehadiran sepupu-sepupu muda dari pihak suamiku yang datang memberikan salam natal kepada kami.  Ramai-ramai mereka menikmati kue natal tradisional buatan mertuaku sambil bercerita seru. 

Sangat menyenangkan.  Mungkin 10 tahun mendatang mereka akan menjadi orang-orang yang sangat dibanggakan.  Menjadi spesialis ternama, manager yang berpotensi atau mewujudkan impian menjadi seorang polisi. Entahlah apakah mereka akan juga masih memegang tradisi ini sebagai pengikat tali kekeluargaan di dalam kehidupan mereka kelak.

Lalu, kemaren (29/12/08) rumah kecil kami di semarakkan dengan kehadiran keluarga untuk mengucapkan kegembiraan natal. Aku sangat senang dengan kegiatan ini, walaupun melelahkan dan sibuk. Tetapi semua tertutupi dengan banyak kejadian natal yang membahagiakan.

Semoga Natal kali ini menjadi berkah bagi semua orang

9
December
2008

Kakak

Sebagai anak yang terlahir paling dulu, peran kakak sangat dimainkan olehku dari kecil. Sering sekali aku berkhayal pada suatu hari kelak, aku juga akan memainkan peran sebagai seorang adik.

Namun, tampaknya keinginanku ini agak sulit diwujudkan. Saat menikah dengan suamiku, tak pernah terlintas memainkan kembali peran sebagai seorang kakak pada keluarga di luar rumah ibuku. Menjalani kehidupan rumah tangga hampir 7 tahun, ternyata tetap menetapkanku melakoni peran seorang kakak bagi keluarga besar kami.

Suami ku terlahir sebagai anak paling ‘dituakan’ dalam keluarga besar Tambunan dan Siahaan (dari mertua perempuanku). Mau tidak mau peran ini harus juga ikut aku imbangi untuk dijalankan. Dan semakin hari, kala adik-adik kami semakin dewasa, peran ini ternyata bukan cuma sekedar ‘dagelan’.

Setiap saat kami harus siap menjadi kakak yang baik bagi mereka. Sampai kadang-kadang aku berpikir, kapan kami memiliki waktu untuk diri kami sendiri. Semua pekerjaan keluarga selalu datang mengantri seolah tak berujung. Memainkan peran sebagai kakak ipar atau kakak sepupu inilah yang selalu menjadi alur tersendiri. Kadang aku sering bingung dalam menentukan sebuah sikap dan tindakan untuk alur yang benar.

Seorang kakak, harus bisa selalu mengerti kebutuhan dan kondisi tiap adik-adiknya. Harus bisa merasakan apa yang mereka rasakan. Juga harus bisa membimbing mereka agar menjadi anak yang baik. Walah…padahal kadang-kadang aku juga mau ada yang mengerti diriku, merasakan apa yang aku rasakan dan dibimbing dengan baik.

Tanpa ku sadari, saat menjadi kakak, aku harus mendahulukan apa yang menjadi kepentingan adik-adikku daripada diriku sendiri. Tidak boleh egois.

Sedihnya, saat mereka sudah dalam posisi yang nyaman, mereka sering melupakan bahwa ada seorang kakak yang berperan dalam kehidupan mereka. Mereka sering lupa ada seorang kakak yang selalu ada bagi mereka dalam segala kondisi mereka.

Aku cuma berharap, mereka bisa mengenangku pada suatu saat kelak, bahwa mereka memiliki seorang kakak yang walau tak sempurna tapi ada selalu untuk mereka.

11
November
2008

4=mati?

Membaca banyaknya liputan tentang Obama akhir-akhir ini, sangat menarik menyimak tulisan Bondan di majalah Tempo. Bahwa Obama adalah presiden ke 44. Angka 4 diyakini etnis Tionghoa berarti mati. Dan 44 artinya mati dua kali. Padahal orang Amerika mempercayai angka 13 sebagai angka sial, walaipun kalau kita jumlahkan maka hasilnya kembali ke angka 4.

Semakin dipikir-pikir tidak terlalu salah persepsi itu, dan banyak hal semacam itu teraplikasikan dalam kehidupan kita sehari-hari. Sadar maupun tidak kita sadari. Misal saja banyak gedung tinggi tidak ingin menamai lt 4 dengan angka 4 tetapi diganti dengan angka lain yang dianggap tidak bawa sial seperti 3 A dan sebagainya.

Ada seorang teman dari etnis keturunan Tionghoa, terpaksa mengambil tindakan bedah caesar saat melahirkan anaknya untuk menghindari kelahiran di tanggal 4 dan berbau angka 4 bahkan berjumlah 4. Dan dokter kandungannya yang juga dari golongan etnis yang sama juga memasang tarif khusus tanpa angka 4 dan jika di jumlah bukan 4.

Lain lagi cerita seorang dealer mobil ketika menawarkan angka di plat mobil. Jika tidak ada permintaan khusus, maka harga normal berlaku. Untuk menghindari angka 4, maka tambahan Rp250.000.

Jadi sekarang menghindari angka 4 pun sudah menjadi komoditas. Pertanyaan berikutnya, apakah jual beli angka 4 kenapa bukan menjadi harga mati?

Yakin ataupun tidak terhadap persepsi ini, akan kembali kepada kita. Karena dunia bisa bicara apa saja tetapi Tuhan punya kuasa. Ketika ahli pikir cina memasukkan angka 4 yang berarti mati dalam hitungan mereka, adalah semata-mata ingin menunjukkan sebuah siklus dalam hidup ini. Ada proses kelahiran, kebahagiaan, panjang umur dan kematian.

Sesuatu yang normal dan wajar. Tetapi bisa menjadi tidak normal dan wajar jika cara pandang kita juga ikut-ikutan abnormal.

Percaya 4=mati? kembali kan saja pada diri sendiri.

3
November
2008

Pendiam

Semua orang yang mengenal aku selalu setuju jika aku bukanlah orang yang pendiam.  Walaupun terkadang aku tidak mengerti apa yang dimaksud dengan ‘pendiam’.  Jika memang harus berada dalam sebuah keheningan bersama orang lain menjadi ganjalan bagi ku…memang itulah aku.  Tapi jika karenanya aku bukan dikategorikan orang yang pendiam, maka aku juga agak ragu dengan sempitnya pengertian tersebut.Pada dasarnya, aku sangat kaku.  Tidak terlalu suka berbicara dengan orang yang tidak membuatku nyaman.  Tetapi keadaan diam sangat menyiksaku.  Walaupun kalau aku marah betul, maka aku akan memilih untuk diam.  Ketika aku menyelesaikan masalahku dengan diam, maka aku cuma akan berbicara dengan Tuhan yang kuyakini tidak pernah tidur.  Pada prinsipnya, jika ada orang yang mengajakku berbicara maka aku akan membalasnya.  Jika ada yang mendiamkan aku, maka aku akan mengajaknya bicara.  Jika ada yang mengganjal perasaanku maka aku akan bicara.  Namun jika bagiku bicara tidak menyelesaikan masalah, maka aku akan memilih untuk diam.  Bagiku orang yang tidak bisa diajak berkomunikasi dengan sehat adalah orang yang sakit.  Entah sakit jiwa ataupun sakit fisik.  Bagiku jika ada orang yang mengatakan setiap orang harus mengerti jika dia sedang diam, bagiku itu tidak ‘fair’.  Karena tidak ada manusia yang mengenal manusia lain dengan sempurna kecuali manusia itu sendiri.Maka aku agak bingung jika ada orang yang mampu tidak berkomunikasi seharian padahal hidup saling berpandangan.  Mau jadi apa hubungan seperti itu?Apakah dengan begitu bisa dikategorikan mereka manusia yang pendiam? Aku kurang setuju dengan cara pikir itu.

Pendiam dengan mendiamkan memiliki pengertian yang sangat beda dan jelas berseberangan.

(sebuah renungan sederhana untuk sebuah arti DIAM)