19
October
2012

Memasak

Sebenarnya aku bukan perempuan yang suka memasak. Bukan karena sok modern tau takut kehilangan style. Tetapi cuma dikarenakan selalu tidak pernah bisa merasakan manis, asin, asam dan sebagainya dengan tepat

Tapi akhir-akhir ini, saya tergila-gila dengan memasak. Membuat mpekmpek, laksa dan sekarang siomay. Sebegitu tergila-gilanya saya merelakan diri untuk belajar secara khusus.

Tidak ada yang menarik, namun yang pasti sekarang saya menemukan suatu sensasi tersendiri dari memasak….kapan-kapan saya publish yah hasil percobaan saya…

24
August
2012

Pembantu oh Pembantu

Sejak menjalani rumah tangga sendiri dan memiliki anak, kebutuhan akan bantuan tenaga PRT menjadi salah satu prioritas. Bermula dari pengalaman mempekerjakan tenaga sesama orang batak dan bertingkah aneh setelah disekolahkan.  Sampai masalah pembantu kabur sudah kami nikmati.

Dari semua rangkaian itu, rata” PRT atau apapun itu sebutannya bekerja paling tidak 2 kali lebaran.  Dengan segala macam tingkah, masalah dan kondisi selalu gaji menjadi masalah ke-2 yang dibicarakan selama memang cocok.

Tapi ketika salah satu teman bercerita, gaji PRT yang digunakannya 2 kali lipat dari yang kami bayarkan rasanya kepala mau meledak…dhuaarrrr…

Itu pun sang PRT masih menggunakan terms and condition kepada bossnya.  Di luar gaji, tidak mau kerja sendiri di rumah.  Setelah itu, teman itu bercerita terakhir dia menggaji PRT nya yang sudah 12 tahun bekerja dengannya setara dengan gaji admin yang sudah 5 tahun bekerja di perusahaan dengan latar beakang pendidikan mungkin S-1.  Itu pun sang pembantu memutuskan “resign”.

Padahal di rumah salah satu kerabat, seorang PRT nya yang sudah 20 tahun mengabdi dan sendirian bekerja di rumah mereka hanya mendapatkan gaji setara dengan PRT yang kami bayarkan.

Dari 2 pembanding itu, saya sedang berpikir siapa yang berlebihan bersikap dan siapa yang tidak peka dengan kebutuhan orang lain?

tapi akhirnya cuma ada slogan “pembantu oh pembantu”

13
July
2012

Bonus = Bencana

Selama bekerja, baru kali ini saya mengetahui bonus yang diberikan perusahaan malah menjadi bencana.  Bagi pekerja yang menjadi supporting tim sales, bonus tahunan adalah salah satu yang ditunggu selain THR.  Kebanyakan karyawan berharap bisa mendapatkan bonus tahunan lebih besar dari pada THR.

Wajar saja, karena memang banyak hal yang digantungkan untuk dibeli dari bonus tahunan.  Karena jelas gaji alokasi sudah pasti demikian juga THR.  Tetapi bonus, ini menjadi berkat dan motivasi terbesar bagi karyawan dalam bekerja dan mendedikasikan dirinya kepada perusahaan.

Kali ini setelah pembagian bonus, karyawan di kantor cabang tempatku bekerja malah menjad demotivasi.  Banyak yang merasa tidak puas dan menyalahkan sales team sebagai penyebab utama keuntungan perusahaan berkurang.

Padahal kalau mau jujur semua pihak terkait dengan kondisi sales.  Mulai dari salesman mencari order, customer service yang terampil menangani konsumen, AR team dalam penerbitan dokumen, pengiriman team dalam distribusi dan terakhir bagian penagihan.  Semua menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan.

Tapi semua kembali kepada dedikasi setiap komponen dalam memaksimalkan hasil kerjanya.

Dan terpenting bagaimana para petinggi perusahaan membuat keputusan untuk menjaga keuntungan.

12
July
2012

Temanku dan Dunia Politiknya

Setelah Pilkada Jakarta tanggal 11 Juli 2012, saya bertemu dengan beberapa teman di waktu kuliah.  Seperti pertemuan lainnya, setiap orang memiliki cerita sendiri.  Salah satunya adalah seorang teman yang sekarang memilih menjadi dosen dan mulai bermain di ranah politik.

Ketika dia datang, tak dapat ditutupi kekesalan di wajahnya.  Kandidat yang didukung oleh partainya tidak dapat menang dalam 1 kali putaran Pilkada.  Cerita pun mengalir, latar belakang dia memutuskan untuk bermain di kawasan bernama politik.  Dan yang paling menakjubkan dia berambisi menjadi salah satu petinggi di kasawasan tertentu di tahun 2015 mendatang.

Seru dan menakjubkan!

Dalam pembicaraan lanjutan, dia membeberkan rencana-rencananya termasuk akan memasukkan nama kami teman-temanya dalam tim sukses.

Semua dengan setengah bercanda menyatakan “SIAP MENDUKUKUNG”

Secara iseng saya bertanya padanya, “istrimu juga mendukung kandidat gubernur yang kau sokong?”

Dan jawabannya,”gak dia pilih nomor lain”

Sontak semua teman terbahak-bahak mendengarnya.  Bagaimana orang diluar sana bisa mendukung dia, jika teman sehidup sematinya saja berseberangan pandangan politik dengannya.  Dengan kata lain, dia belum mampu mempengaruhi orang terdekatnya akan visi dan misi perjuangan politiknya. Bagaimana dia mampu mempengaruhi orang lain di luar sana?

Terlepas dari itu, sebagai teman yang baik, semua kami sudah menyatakan dukungan penuh untuk setiap langkah politiknya.

(dedicate for ci Gu, teman baik dari alumni SP-FE-USU 1992)

10
July
2012

Cerita Cinta Dua Babak

Dia seorang perempuan separuh baya yang berwajah manis.  Mengabdikan dirinya sebagai seorang perawat di unit kerja jantung.  Tutur katanya lembut juga semanis wajahnya.  Mengenalnya secara pribadi membuat semua orang berkesimpulan bahwa dia adalah sosok yang menyenangkan.

Semakin mengenal dia, semakin banyak hal yang janggal dalam kisah hidupnya.  Terutaman kisah cintanya.  Di usia mudanya, dia merajut janji setia dengan seorang pemuda sederhana.  Cinta yang manis mengalahkan semua perhitungan tentang harta.  Bersama cintanya, dia merajut kehidupan berumahtangga dan melahirkan anak”. Tetapi ternyata tak selamanya cinta tanpa kesenangan bisa bertahan.  Pada satu titik, dia terjerat dalam indahnya dunia bergelimang uang dan kehidupan malam.

Mungkin dia yang awalnya hanya bermaksud untuk melepas semua kepenatan dari masalah yang mendera. Pada satu masa, keadaan berbalik membuahkan ide untuk keluar dari masalah dengan menikmati kehidupan malam.  Dia mulai berkenalan dengan pria lain di luar cinta mudanya.  Mulai mendapatkan jalan bahwa dengan rajutan kasih sesaat, uang lebih mudah didapat.  Perangkat perawat menjadikan semua jalan pintas ini  sangat sempurna.

Semakin lama, semakin banyak rencana yang bermain dalam alam pikirnya.  Sampai pada suatu hari, dia bertemu dengan seorang pria berumur dengan status sudah ditinggal mati istri yang sedang sakit.  Semua kelebihan yang dia miliki pun sangat mudah memikat sang pria.  Kelihaiannya membujuk sang pria, sungguh memabukkan.  Sehingga sang pria rela melakukan hal-hal yang luar biasa demi dia.

Kehidupan baru berkelebihan pun di mulai.  Dia menjadikan dirinya seorang perempuan berkelas.  Dengan segala atribut demi kesempurnaan penampilan.  Sang pria pun semakin terpesona dalam daya pikatnya.

Tiap kali batu pengganggu menghalangi langkahnya, dia pun menggunakan cara yang sangat manis dalam memainkan perannya.  Bukan dengan menghempas sang batu, tetapi menyingkirkannya dengan cara halus.

Semua masa manis pun mulai redup saat sang pria ke dua dalam cintanya tak mampu membendung sakit yang datang.  Penyakit yang tak cuma berkunjung.  Tetapi penyakit yang tak mau beranjak walau sekeras apapun daya di coba untuk menyingkirkannya.  Pria kedua yang tadinya manis, sekarang terasa menjadi benalu yang membebani.  Semua batu-batu kecil yang tadinya disisihkan untuk mempermudah langkahnya pun sekarang berubah menjadi tumpukan tembok yang kokoh tak tergoyahkan.

Dia pun harus melangkahkan kakinya keluar dari istana baru yang tak lama diinjaknya. Menuju kembali pada kehidupan yang sebenarnya sudah menjadi bagiannya.

Saat sang pria berjuang melawan rasa sakit, dia memilih menikmati hidupnya.  Saat sang pria terbaring lemah dan membutuhkan pertolongannya, dia memilih berteman dengan kartu-kartu yang lucu.  Dan saat sang pria berhenti berjuang sambil meneriakkan nama istri pertamanya, dia memilih menangisi jasad yang sudah kaku.

Dalam pikirnya, mulai bermain dan menari seribu pertanyaan tentang cinta yang dia punya.  Bagaimana cinta mudanya terhapus begitu saja, berganti dengan cinta di usia matangnya yang tak berumur panjang.  Namun saat semua sudah lepas dari genggamannya, kemana kapal cinta ini harus dia sandarkan?

Masihkan ada cinta yang bisa mempercayai dia? Mau menerima dia apa adanya dengan sejuta cerita lain yang belum tentu terang.

Cerita cinta dua babak yang dia alami setidaknya memberikan arti dari tiap babaknya.  Babak cinta muda dan babak cinta akan uang

(Jakarta, 7 Juli 2012. May he rest in peace)

2
July
2012

Hidup dalam Damai

Jika orang membuat iklan duka cita, maka kebanyakan tertulis Rest in Peace.  Ada kemungkinan sebagian dari mereka yang memang benar-benar mengawali perjalanan barunya dengan damai, namun saya juga yakin banyak yang masih belum damai.  Saat saya mendadak merasakan kondisi kesehatan yang tak terpredikisikan dari awal, saya merasakan betapa dekatnya kematian dengan kehidupan.

Saya yang sepanjang hari kelihatan nyaman-nyaman saja, mendadak pada saat pulang kerja dan dalam posisi nyetir mobil merasakan blank yang tak tergambarkan.  Di saat terkapar di UGD sendirian, saya berpikir ini salah satu kondisi yang bisa menyebabkan istirahat panjang belum tentu di awali dalam kondisi damai.  Ada masih banyak persoalan yang ditinggalkan.  Bukan semata-mata masalah uang tetapi yang terparah adalah masalah hati.

Bagaimana kita bisa damai, jika hati kita di saat akan beristirahat masih diliputi dengan kemarahan.  Masih ditemani oleh dendam dan masih ditemani dengan semua kejahatan.  Malam itu, sambil memandangi tetesan infus yang lumayan perih, saya berpikir untuk selalu bisa hidup dalam damai.

Damai dengan lingkungan, keluarga dan yang terpenting dengan diri saya sendiri.

Semua tak bisa dilakukan dan diselesaikan hanya dalam 1 hari apalagi 1 jam. Tapi setengah masalah sudah diselesaikan pada saat niat baik itu muncul.  Tetapi memutuskan untuk mau berdamai cuma membutuhkan 1 detik dan  tak lebih.

Berdamai dengan lingkungan dan keluarga masih bisa disamarkan dengan seakan-akan semua masalah “selesai” atau “inilah caranya”.  Tetapi dengan diri sendiri? ini ternyata sangat tak mudah.

Mengampuni orang lain saja tak mudah, apalagi mengampuni diri sendiri.  Tetapi nasehat seorang teman yang sekarang jadi pembawa kabar baik mengatakan “berdamai dengan diri sendiri akan mendatang damai sejahtera bagi sekeliling kita terutama diri kita sendiri.  Dan bagaimana kita bisa mati dalam damai kalau dalam hidup saja kita nyaris tak mengenal kata damai”.

Lama merenungi hal ini, dan saya pun memulai langkah awal.  Bagi orang yang mengetahui cerita dibalik tulisan ini, akan berkata “Lu mah aneh” ajah yah”.  Tapi jalan yang saya tempuh bukan karena semata-mata kemauan saya.  Jalan yang saya ambil pun tak harus sama dengan orang lain.  Namun yang pasti, saya ingin jika saatnya tiba, saya tak ingin kata Rest in Peace terpaksa di tuliskan untuk saya, yang dalam hidup saja tidak bisa damai dan berdamai.

(terima kasih untuk waktu yang diberikan Kristus membiarkanku berdamai dengan diriku sendiri, terima kasih untuk “belahan dari jiwaku” yang selalu sabar menghadapiku selama ini,  juga terima kasih untuk seorang teman baru yang tak seburuk pikiranku)

 

 

22
May
2012

Benar dan Salah

Saya membaca blog seorang perempuan yang katanya teraniaya dalam rumah tangganya. Sepintas ceritanya hanya tentang dia dan sekitarnya.

Dalam sebuah postingnya, dia mengangkat sebuah topik tentang curhat di Social Media. Membaca tulisannya, saya setuju dengan cara pikirnya. Sampai pada satu titik saya menyadari bahwa dia cuma sekedar menulis dan tak lebih.

Saya setuju dengan pemikiran berhati-hati dalam mencurahkan pikiran dan perasaan di SocMed. Tetapi bagi saya, mungkin saja itu adalah terapi melepaskan beban yang ada di dalam dada.

Dengan menulis, tidak ada orang yang disakiti. Tidak ada orang yang dikorbankan. Bayangkan seandainya permasalahan rumah tangga kita curahkan kepada orang lain. Dimana efeknya bisa macam-macam termasuk rasa yang harusnya tak pernah ada.

Mana yang lebih memalukan? Mana yang lebih benar? dan Mana yang salah?

Tidak ada yang benar dan salah..namun sebaiknya tidak menghakimi orang dengan kesukaan tiap” orang. Setiap orang punya cara masing-masing dalam memecahkan masalahnya. Tak semua harus sama seperti yang kita pikirkan apalagi seperti yang kita mau.

Kalau memang SocMed tidak menjadi solusi bagi masalah, lalu kita mengatasnamakan Tuhan sebagai sumber kekuatan, ada baiknya bukan cuma sekedar kata. Juga jangan menjadikan kesempatan berbicara dengan orang lain menjadi pembenaran dalam menyakiti hati yang tak mengerti permasalahan yang kita hadapi.

(renungan untuk seorang perempuan di luar sana penyuka HAKUNA MATATA)

18
May
2012

Keabadian

Tulisan ini terinspirasi dari salah satu lagu kesukaan saya berjudul Keabadiaan yang dipopulerkan oleh Reza A.

“Mungkinkan kau mencintai diriku selama-lamanya hingga maut memisahkan?

Bukan hanya cinta yang sesaat terus menghilang bila hasrat telah usai

Mungkinkah terwujud keabadian……?”

Pada satu titik, saya merasakan lagu ini menjadi sebuah inspirasi dan pemikiran tersendiri.  Saat cinta menyapa, sampai berapa lama kita mampu menjaga apinya dengan baik? Tidak membesar namun juga tidak padam.  Bukan hanya sesaat dan kemudian panas yang memenjarakan hati atau memang padam tanpa memberikan rasa.

(Mencoba bertahan untuk cinta yang ku punya)
26
February
2012

Surga dan Neraka

Setiap kali beribadah semua pemuka agama selalu menjanjikan surga. Setiap kali juga terdengar neraka adalah tempat terburuk yang pernah ada tercipta. Sebegitu indah penggambaran surga, sehingga rasanya tak ada yang mau tinggal dan menetap di neraka.

Semua rumah ibadah selalu penuh dengan manusia yang mencari tiket mudah ke surga. Rumah ibadah yang menawarkan tiket ke neraka belum pun berhasil menghimpun jemaatnya sudah pasti segera di tutup oleh para pencari surga.

Dalam sebuah pembicaraan dengan keluarga terdekat, saya menanyakan mengapa mereka sekeluarga sangat aktif dalam kegiatan keagamaan. Inti jawabnya sebenarnya sudah bisa di duga “biar masuk surga” .

Ketika cobaan menerpa keluarga itu, semua mereka berlomba-lomba memasang status memohon pertolongan dari Pemilik Surga (yang juga sebenarnya Pemilik Neraka). Berbagai doa dibuatkan sebagai status terkini dalam setiap jejaring sosial.

Pun ketika cobaan itu berlalu,tak henti membaca ucapan syukur mereka kepada Tuhan. Seketika setiap orang merasakan bahwa surga memang bisa menjadi bagian dari mereka.

Tetapi ketika ada seorang dari keluarga mereka menginginkan juga mendapatkan kebahagiaan di dunia ini, sebegitu mudah kata-kata tak layak keluar dari mulut mereka.

Pertanyaannya sederhana saja, jika memang kita menginginkan surga mengapa harus membuat jalan kita lebih mudah ke neraka?

Layakkah kita memberikan penghakiman kepada orang yang berkesusahan? Layakkah kita memberikan stigma negatif kepada orang yang tak bisa kita tolong?

Sedih sekali saat berharap kita bisa melihat orang lain yang tak jelas hubungannya dengan kita berkesusahan keluar dari masalahnya. Tetapi seringan kita juga tak menyadari bahwa kita turut menciptakan kesusahan pada orang lain.

Ketika kita mengharapkan surga, harus disadari bahwa jalan menuju neraka pun tak seterjal yang dibayangkan.

Saat orang lain menjadi susah, berharaplah bukan kita penyebab utama kesusahannya. Tetapi menjadi penolong yang baik baginya.

Tiket ke surga tak hanya bisa di dapat dari seberapa sering kita beribadah atau menyumbang. Tetapi seberapa hebat kita menularkan kebaikan di muka bumi ini.

Jika kita berpikir agama adalah satu-satunya jalan menuju surga, maka jalankanlah agama dengan baik walau tak mungkin sempurna. Tapi jika kita berpikir ada banyak jalan menuju surga maka ada kebaikanlah jalan paling benar menuju surga.

Bahwa tiket menuju surga atau neraka bukan datang dari agama dan tempat kita beribadah tetapi dari apa yang kita perbuat. Kembalilah kepada hakikat yang sederhana ini dalam mencari jalan menuju Surga atau mungkin juga neraka.

(renungan dari caci maki kepada seorang janda yang memutuskan untuk menikah lagi demi mencari surga dunianya)

11
February
2012

Menjadi Beda

Seorang teman pria di masa SMA setelah sekian puluh tahun membuat pengakuan yang sangat mengejutkan.  Dia yang sekarang berdomisili di salah satu negara bersalju bercerita banyak tentang perubahan dalam hidupnya selepas dari masa SMA.

Latar belakang keluarga yang tak berkekurangan membuat dia memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya ke negara asing.  Berawal dari pergaulan di asrama dengan perebedaan budaya, membuat dia terjebak dalam kenikmatan yang tak seharusnya.

Kecintaannya pada dunia seni membuatnya suka mengunjungi pertunjukan tari.  Berbagai pertunjukkan tari dia nikmati.  Namun sampai pada satu titik, dia mendapati dirinya sangat menyukai dunia tari yang menampilkan penari pria.  Berawal dari keingintahuan, dia mulai rutin mengunjungi tempat-tempat pertunjukan dengan penari pria dan tentu saja berpenampilan “bersih”.

Sebegitu candunya dia pada pertunjukan tari pria erotis sehingga banyak dalam kehidupannya ikut terkontaminasi.  Dia mulai menyadari bahwa ternyata pria lebih menarik baginya.  Dia pun mulai berhubungan dengan pria.

Jarak yang jauh, membuat dia bisa menutupi semua “perbedaannya” ini dari keluarga.  Setiap kali ada desakan menikah dengan wanita, beragam alasan pun dilontarkan.  Sampai pada satu titik dimana tanpa sengaja keluarga pun mengetahui bahwa saat itu dia tak lagi tertarik dengan wanita.  Tak mudah bagi keluarganya menerima kondisi ini.  Sehingga semua subsidi dana dihentikan oleh keluarganya.

Hidup harus berjalan, untuk kembali ke Indonesia bukanlah hal yang mudah.  Dia pun memutuskan dari sekedar penonton tarian pria erotis untuk menjadi penari erotis pria di salah satu klub yang memang khusus dan sudah menjadi agenda rutin dalam kesehariannya.  Tak cuma itu, dia juga memutuskan untuk, juga mengikat perjanjian dengan teman hidup prianya.

Tak mudah bagi ibu nya mendapati dia semakin jauh dari kehidupan seharusnya.  Dan akhirnya membuat sang ibu pasrah dalam menerima kehidupan yang beda dari anak laki-laki kesayangannya. Namun ibunya membuat persyaratan bahwa dia tak boleh menjadi “wanita” dalam segala hal.  Tidak berpakaian wanita dan tidak berperan sebagai wanita.

Perlahan keluarga pun bisa menerima perbedaan yang dia bawa.  Saat kembali ke Indonesia dia pun tak ragu membawa teman hidup prianya turut serta.

Saat membuat pengakuan dengan teman-teman pun dia menyatakan bahwa tak mudah untuk menjalani kehidupan normal apalagi kehidupan yang menurut pandangan umum tak normal.

Terlepas dari itu semua, saya sangat menghargai cara dia sabar menghadapi berbagai penolakan dan cemoohan.  Saat semua seperti yang sudah dia inginkan, dia menyadari bahwa di masa tua belum tentu kemudahan bisa didapatkan.

Semoga semua menjadi bukan sekedar harapan kosong baginya.  Karena siapapun dia sekarang tak akan mampu mengubah sejarah bahwa dia adalah teman yang pernah normal selayaknya pria seharusnya.  Bahwa lingkungan bisa mengubah seseorang secara permanen.

Sekali lagi tak ada yang salah dan bisa disalahkan.  Namun juga tak ada yang bisa mengubahnya kecuali dirinya sendiri dan Tuhan yang dia percaya.

(renungan dari perjalanan hidup seorang teman yang dulunya saya tahu pernah jatuh cinta teramat sangat pada seorang wanita)