3
November
2009
Di masa aku mendapat kesempatan untuk mengenal sebuah media berbasis budaya, terasa ada sesuatu yang berbeda. Rasa senang, bangga dan juga penuh dengan harapan.
Sederhana saja, aku ingin budaya yang sekarang ku kenal juga akan dicintai oleh anak”ku di kemudian hari. Berbekal idealisme ini, aku sangat berharap bisa berbuat banyak melalui sebuah media dalam melestarikan budaya.
Tak tahu akan menjadi seperti apa, tapi tampaknya ada kepahitan tersendiri yang tak terungkapkan. Walau aku masih menyimpan asa untuk menyumbangkan keprofesionalismeanku…tapi adakah sisi penghargaan yang akan dibayarkan untuk itu?
Bekerja untuk budaya bukan berarti tanpa kata profesionalisme bukan?
Uncategorized
No Comments »
27
October
2009
Setelah cukup lama tidak memasukkan apa yang terlintas di pikiran ke dalam blog, hari ini terlintas untuk memberikan sesutau yang baru.
Kata orang hari ini HARI BLOG…ntah apa maksudnya. Aku sendiri tak begitu memahami.
Tapi ndak apa, yang penting gaya aja dulu….
Selamat Hari Blog….
Uncategorized
No Comments »
12
January
2009
Pemikiran ini sengaja di posting pada saat 2009 sudah berjalan, karena memang bukan ditujukan untuk menjalani 2009. Tetapi resolusi ini menjadi pemikiran untuk di jalankan ditahun “SAYA”. Kenapa aku menyebutnya begitu, karena September, 1973 ada di bawah naungan tahun Kerbau menurut kalender Cina dan sekarang kembali berulang di tahun 2009.
Yang menjadi salah satu langkah baru di tahun Kerbau kali ini adalah: PUNYA ANAK KECIL LAGI.
Bukan sesuatu yang sulit, karena ini anak ke 2. Tetapi juga tidak terlalu mudah karena anak pertama kami sudah mulai mandiri.
Langkah lain yang harus sudah mulai di jajaki pada tahun yang kata ‘orang pandai’ menjadi tahun yang lambat adalah menjadi bos bagi diri sendiri. Waktu, pekerjaan dan semua permasalahan hidup bukan lagi menjadi beban tetapi menjadi sebuah peluang.
Cara pandang dan cara bersikap menjadi sangat penting. Kata Bapakku, jangan pernah takut gagal saat mencoba sesuatu, jadikan kegagalan mu sebagai pelajaran yang tak akan di dapat di sekolah formal sebagai sesuatu yang tak ternilai…
(Hasil renungan dari sebuah percakapan saat arisan Tambunan dan setelah membaca sebuah catatan dari Kafi Kurnia)
Uncategorized
No Comments »
30
December
2008
Natal 2008, mulai terasa denyutnya di awal bulan Desember. Kami sibuk mendatangi mall untuk sekedar membeli beberapa kado natal. Denyut ini semakin menguat saat belanja berbagai perlengkapan untuk kue natal dijalankan. Mengadon, memanggang, menyusun ke dalam toples kedap udara dan dinikmati bersama, mejadikan irama Natal kali ini berbeda.Hal yang menjadi rutinitas tahunan kami adalah mengunjungi orang tua dan kerabat yang dituakan di tiap kali Natal menjelang. Mengirimkan beberapa hantaran Natal dan menikmati saat santai bersama keluarga.
Natal tahun lalu, biasanya tidak ada yang datang menjadi tamu di rumah kecil kami. Tapi tahun ini, berbeda. Diawali dengan kehadiran sepupu-sepupu muda dari pihak suamiku yang datang memberikan salam natal kepada kami. Ramai-ramai mereka menikmati kue natal tradisional buatan mertuaku sambil bercerita seru.
Sangat menyenangkan. Mungkin 10 tahun mendatang mereka akan menjadi orang-orang yang sangat dibanggakan. Menjadi spesialis ternama, manager yang berpotensi atau mewujudkan impian menjadi seorang polisi. Entahlah apakah mereka akan juga masih memegang tradisi ini sebagai pengikat tali kekeluargaan di dalam kehidupan mereka kelak.
Lalu, kemaren (29/12/08) rumah kecil kami di semarakkan dengan kehadiran keluarga untuk mengucapkan kegembiraan natal. Aku sangat senang dengan kegiatan ini, walaupun melelahkan dan sibuk. Tetapi semua tertutupi dengan banyak kejadian natal yang membahagiakan.
Semoga Natal kali ini menjadi berkah bagi semua orang
Uncategorized
No Comments »
9
December
2008
Sebagai anak yang terlahir paling dulu, peran kakak sangat dimainkan olehku dari kecil. Sering sekali aku berkhayal pada suatu hari kelak, aku juga akan memainkan peran sebagai seorang adik.
Namun, tampaknya keinginanku ini agak sulit diwujudkan. Saat menikah dengan suamiku, tak pernah terlintas memainkan kembali peran sebagai seorang kakak pada keluarga di luar rumah ibuku. Menjalani kehidupan rumah tangga hampir 7 tahun, ternyata tetap menetapkanku melakoni peran seorang kakak bagi keluarga besar kami.
Suami ku terlahir sebagai anak paling ‘dituakan’ dalam keluarga besar Tambunan dan Siahaan (dari mertua perempuanku). Mau tidak mau peran ini harus juga ikut aku imbangi untuk dijalankan. Dan semakin hari, kala adik-adik kami semakin dewasa, peran ini ternyata bukan cuma sekedar ‘dagelan’.
Setiap saat kami harus siap menjadi kakak yang baik bagi mereka. Sampai kadang-kadang aku berpikir, kapan kami memiliki waktu untuk diri kami sendiri. Semua pekerjaan keluarga selalu datang mengantri seolah tak berujung. Memainkan peran sebagai kakak ipar atau kakak sepupu inilah yang selalu menjadi alur tersendiri. Kadang aku sering bingung dalam menentukan sebuah sikap dan tindakan untuk alur yang benar.
Seorang kakak, harus bisa selalu mengerti kebutuhan dan kondisi tiap adik-adiknya. Harus bisa merasakan apa yang mereka rasakan. Juga harus bisa membimbing mereka agar menjadi anak yang baik. Walah…padahal kadang-kadang aku juga mau ada yang mengerti diriku, merasakan apa yang aku rasakan dan dibimbing dengan baik.
Tanpa ku sadari, saat menjadi kakak, aku harus mendahulukan apa yang menjadi kepentingan adik-adikku daripada diriku sendiri. Tidak boleh egois.
Sedihnya, saat mereka sudah dalam posisi yang nyaman, mereka sering melupakan bahwa ada seorang kakak yang berperan dalam kehidupan mereka. Mereka sering lupa ada seorang kakak yang selalu ada bagi mereka dalam segala kondisi mereka.
Aku cuma berharap, mereka bisa mengenangku pada suatu saat kelak, bahwa mereka memiliki seorang kakak yang walau tak sempurna tapi ada selalu untuk mereka.
Uncategorized
No Comments »
11
November
2008
Membaca banyaknya liputan tentang Obama akhir-akhir ini, sangat menarik menyimak tulisan Bondan di majalah Tempo. Bahwa Obama adalah presiden ke 44. Angka 4 diyakini etnis Tionghoa berarti mati. Dan 44 artinya mati dua kali. Padahal orang Amerika mempercayai angka 13 sebagai angka sial, walaipun kalau kita jumlahkan maka hasilnya kembali ke angka 4.
Semakin dipikir-pikir tidak terlalu salah persepsi itu, dan banyak hal semacam itu teraplikasikan dalam kehidupan kita sehari-hari. Sadar maupun tidak kita sadari. Misal saja banyak gedung tinggi tidak ingin menamai lt 4 dengan angka 4 tetapi diganti dengan angka lain yang dianggap tidak bawa sial seperti 3 A dan sebagainya.
Ada seorang teman dari etnis keturunan Tionghoa, terpaksa mengambil tindakan bedah caesar saat melahirkan anaknya untuk menghindari kelahiran di tanggal 4 dan berbau angka 4 bahkan berjumlah 4. Dan dokter kandungannya yang juga dari golongan etnis yang sama juga memasang tarif khusus tanpa angka 4 dan jika di jumlah bukan 4.
Lain lagi cerita seorang dealer mobil ketika menawarkan angka di plat mobil. Jika tidak ada permintaan khusus, maka harga normal berlaku. Untuk menghindari angka 4, maka tambahan Rp250.000.
Jadi sekarang menghindari angka 4 pun sudah menjadi komoditas. Pertanyaan berikutnya, apakah jual beli angka 4 kenapa bukan menjadi harga mati?
Yakin ataupun tidak terhadap persepsi ini, akan kembali kepada kita. Karena dunia bisa bicara apa saja tetapi Tuhan punya kuasa. Ketika ahli pikir cina memasukkan angka 4 yang berarti mati dalam hitungan mereka, adalah semata-mata ingin menunjukkan sebuah siklus dalam hidup ini. Ada proses kelahiran, kebahagiaan, panjang umur dan kematian.
Sesuatu yang normal dan wajar. Tetapi bisa menjadi tidak normal dan wajar jika cara pandang kita juga ikut-ikutan abnormal.
Percaya 4=mati? kembali kan saja pada diri sendiri.
Uncategorized
No Comments »
3
November
2008
Semua orang yang mengenal aku selalu setuju jika aku bukanlah orang yang pendiam. Walaupun terkadang aku tidak mengerti apa yang dimaksud dengan ‘pendiam’. Jika memang harus berada dalam sebuah keheningan bersama orang lain menjadi ganjalan bagi ku…memang itulah aku. Tapi jika karenanya aku bukan dikategorikan orang yang pendiam, maka aku juga agak ragu dengan sempitnya pengertian tersebut.Pada dasarnya, aku sangat kaku. Tidak terlalu suka berbicara dengan orang yang tidak membuatku nyaman. Tetapi keadaan diam sangat menyiksaku. Walaupun kalau aku marah betul, maka aku akan memilih untuk diam. Ketika aku menyelesaikan masalahku dengan diam, maka aku cuma akan berbicara dengan Tuhan yang kuyakini tidak pernah tidur. Pada prinsipnya, jika ada orang yang mengajakku berbicara maka aku akan membalasnya. Jika ada yang mendiamkan aku, maka aku akan mengajaknya bicara. Jika ada yang mengganjal perasaanku maka aku akan bicara. Namun jika bagiku bicara tidak menyelesaikan masalah, maka aku akan memilih untuk diam. Bagiku orang yang tidak bisa diajak berkomunikasi dengan sehat adalah orang yang sakit. Entah sakit jiwa ataupun sakit fisik. Bagiku jika ada orang yang mengatakan setiap orang harus mengerti jika dia sedang diam, bagiku itu tidak ‘fair’. Karena tidak ada manusia yang mengenal manusia lain dengan sempurna kecuali manusia itu sendiri.Maka aku agak bingung jika ada orang yang mampu tidak berkomunikasi seharian padahal hidup saling berpandangan. Mau jadi apa hubungan seperti itu?Apakah dengan begitu bisa dikategorikan mereka manusia yang pendiam? Aku kurang setuju dengan cara pikir itu.
Pendiam dengan mendiamkan memiliki pengertian yang sangat beda dan jelas berseberangan.
(sebuah renungan sederhana untuk sebuah arti DIAM)
Uncategorized
No Comments »
31
October
2008
Judul aslinya sih Me and Something. Ini adalah judul dari sebuah talk show radio. Awalnya aku mengira ini tentang bagaimana kita memperlakukan semua benda mati yang kita miliki dan orang lain punya. Tetapi ternyata aku salah. Ini bercerita tentang hubungan antara manusia.
Penggunaan kata “sesuatu” bukan tanpa arti. Karena tanpa kita sadari sering kali kita tidak memperlakukan manusia sebagaimana seharusnya. Kita memperlakukan manusia sebagai sesuatu yang kita pun kadang tak tahu apakah dia memiliki arti yang jelas atau tidak. Perbincangan ini menjadi sebuah refleksi bagiku dalam minggu ini.
Memang sering kita memperlakukan seseorang tanpa memanusiakannya. Contoh, kita memperlakukan bawahan kita sebagai benda yang dapat kita perlakukan sesuka hati. Tidak memberikan perhatian sebagaimana kita memberi perhatian kepada manusia layaknya.
Sering kita mengukur hubungan antar manusia dengan uang. Jika uang memberikan arti, maka seolah-olah uang memberikan jawaban atas semua keinginan kita atas seseorang. Kita sering merasa dengan uang yang kita berikan, kita sudah membeli seseorang sehingga kita dapat memperlakukannya seperti benda mati lain milik kita.
Tidak hanya dalam masalah timbal balik seperti itu saja, dalam hubungan berkeluargapun sering kita berpikir praktis. Kewajiban suami, istri, orang tua, anak dan sebagainya adalah mutlak. Sehingga saat kewajiban tidak terpenuhi, kita menganggap permasalahan adalah milik si pemilik kewajiban yang sebagai catatan kaki adalah bagian dari kehidupan kita.
Perenungan ini yang harusnya sekarang kita pikirkan untuk mau mengubah cara pandang kita terhadap siapa saja. Dan selalu saling mengingatkan untuk selalu memanusiakan manusia sebagaimana seharusnya.
Uncategorized
No Comments »
9
September
2008
Setiap manusia pasti ada satu masa memiliki hasrat untuk menikah. Memiliki teman berbagi dalam kehidupan sampai maut memisahkan. Sebelum menikah ada seorang teman yang menyamakan masa pernikahan adalah masa perjudian terbesar dalam hidup manusia.
Karena kita tidak pernah tahu dengan pasti, siapa sebenarnya manusia yang menjadi pasangan hidup kita.
Ini adalah sebuah kisah yang memang terjadi pada salah seorang yang aku ‘pikir’ cukup ‘aku kenal’.
Seorang pria dewasa memutuskan untuk menikahi seorang wanita. Sederhana saja prinsipnya. Ketika masuk proses saling mengenal, sang pria dewasa menyatakan diri sebagai anak yatim. Diperkuat oleh kesaksian dari keluarga, sang wanita pun meyakini tak ada yang salah dengan pengakuan itu. Hanya saja, sang pria tak pernah mau menunjukkan dimana letak kubur sang ayah.
Tapi cinta mengalahkan segalanya, dan pernikahan pun terjadi. Tak ada yang terasa ganjil dan kehidupan rumah tangga pun berjalan dan berbuahkan 3 orang anak yang baik dan pintar. Waktu berjalan ke-3 anak mereka pun beranjak besar dan hanya mengetahui bahwa kakek mereka dari ayah sudah tiada sejak lama.
Sampai pada suatu hari, ada berita yang memberitahukan bahwa ayah dari pria tadi, juga mertua dari sang wanita dan sudah pasti juga adalah kakek dari ke-3 anak mereka MENINGGAL. Beritapun menjadi sensasional.
Berbagai pertanyaan pun bermunculan seiring dengan berita tadi.
1. Siapakah sebenarnya si Pria yang sekarang sudah menjadi suami dan ayah itu?
2. Siapakah kakek yang meninggal itu?
3. Mengapa si Pria itu tega membohongi keluarganya sekian lama dengan cerita kematian palsu?
4. Mengapa tak ada keluarga yang menceritakan kejadian sebenarnya selama ini?
Dan berjuta pertanyaan lainnya.
Ini mungkin yang dimaksud dengan menikah=berjudi. Dan kadang memang kita tidak pernah tahu dengan siapa sebenarnya kita menikah. Namun, ada unsur percaya dalam sebuah pernikahan. Kepercaayan bahwa apapun itu, yang namanya kebenaran pada satu waktu akan terungkap.
Dengan cara yang misterius dan waktu yang memang bukan waktu kita.
(sebuah renungan yang terinspirasi dari kisah nyata seorang tetangga)
Uncategorized
No Comments »
20
August
2008
Satu bulan terakhir ini ada banyak kejadian suka cita yang aku rasakan. Bermula dari seorang ‘eda’ (sepupu perempuan dari suamiku) di lamar oleh seorang pria. Setelah mengalami banyak pergumulan dalam membina suatu hubungan yang serius, akhirnya dia mendapatkan pelabuhan barunya dengan seseorang yang baru saja dia kenal. Mungkin mengikuti saran para Nabi, proses pacaran tidaklah wajib, tapi proses pengenalan itu harus, ‘eda’ku memutuskan untuk menerima lamaran sang pria.
Lalu, hari Senin lalu, seorang adik sepupuku yang cantik akhirnya jadi juga mengucapkan janji setia bersama pasangannya di hadapan Allah dan jemaatnya. Lagi-lagi setelah mengalami banyak sekali pergumulan. Walau banyak hal yang menyebalkan terjadi sepanjang acara, tapi secara umum semua berlangsung dengan baik dan lancar.
Aku hanya memohon pada Tuhan, agar semua suka cita yang mereka rasakan akan menjadi jawaban indah sepanjang hidup mereka.
(harapan dari seorang kakak untuk 2 orang adik yang baik Aci dan Maria)
Uncategorized
No Comments »